MEDAN – Sedari dulu, beribu-ribu pahlawan telah merelakan jiwa raganya untuk memerdekakan tanah air tercinta dari hegemoni penjajahan. Tidak ada kata lain bagi pahlawan bangsa ini kecuali berkorban dan berjuang demi Indonesia Raya
Negeri elok rupawan ini harus tetap bertahan dan dipertahankan sebagai negara yang merdeka sekaligus berdaulat. Atas jasa para pahlawan, kita berkewajiban menghargai dengan bersungguh-sungguh meneruskan cita-cita mereka.Tahun ini, pemerintah baru saja menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tujuh tokoh bangsa. Pemimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Sjafruddin Prawiranegara, dan tokoh Muhammadiyah, Buya Hamka, adalah dua di antaranya.
Penganugerahan ini dilaksanakan dalam sebuah upacara yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Penyerahan diberikan melalui ahli waris tokoh-tokoh tersebut. Ketua Dewan Gelar yang juga Menko Polhukam, Djoko Suyanto, mengungkapkan pembahasan nama yang mendapat gelar pahlawan itu dilakukan Kementerian Sosial sesuai ketentuan
Selain gelar Pahlawan Nasional, Presiden juga menganugerahkan tanda jasa pada 11 tokoh lain. Pemberian gelar dan bintang jasa tersebut berdasarkan rekomendasi Sekretariat Dewan Gelar, Bintang Jasa, dan Tanda Jasa.
Mereka yang menerima gelar Pahlawan Nasional adalah Sjafruddin Prawiranegara, Idham Chalid, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Ki Sarmidi Mangunsarkoro, I Gusti Ketut Pudja, Sri Susuhan Pakubuwono X, dan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono.
Mahasiswa STIK-P, Sarce Purba, mengatakan di negara ini jiwa kepahlawanan tidak boleh berakhir apalagi di tengah carut-marutnya pemerintahan sekarang di mana masalah terus-menerus menerpa mulai dari korupsi hingga terorisme yang seakan tak pernah habis.
“Kalau dulu pahlawan melawan penjajah, sekarang justru pahlawan harus berperang melawan penjajah di negara sendiri yang berusaha menghancurkan keutuhan bangsa yang terkenal dengan keberagaman suku, ras, dan agama,” ujar dara yang menekuni ilmu Jurnalistik ini.
Hal senada juga disampaikan mahasiswa USU, Nugraha Pratama Dana. Dikatakan bahwa sebagai generasi bangsa yang berintelektual, mahasiswa dituntut dapat meneladani dan meneruskan perjuangan pendahulunya.
“Seperti kata pepatah, jangan ditanya apa yang sudah diberikan negara kepadamu tapi apa yang telah dirimu berikan kepada negara. Karena itu marilah kita melanjutkan perjuangan pahlawan yang telah bersusah payah membebaskan bangsa ini dari penjajahan, tak perduli sekecil apapun itu, ” tuturnya kepada Kreasi.
Pastinya, perjuangan membangun Indonesia tidak akan pernah berakhir. Perjuangan yang juga menuntut sikap mengutamakan kepentingan bangsa sebagaimana dicontohkan pahlawan. Di zaman kemerdekaan ini, kita wajib menjadi pahlawan yang siap sedia membangun negeri tanpa pernah berpikir soal keuntungan pribadi. Menjadi pahlawan Indonesia dengan sendirinya juga mampu menampilkan perilaku positif dan kepribadian utama.
Editor: AUSTIN ANTARIKSA
(dat16/wol/waspada)